Jumat, 14 Oktober 2016

Fenomena Politik Kontemporer

Berbicara kontemporer berarti kita berbicara fenomena kekinian. Kabupaten Aceh Singkil, mekar dari Aceh Selatan tahun 1999. Setelah beberapa kali melakukan Pemilukada baru pada tahun ini saya masuk langsung dalam praktiknya, kalau dulu cuma jadi pengamat, dan keterlibatan saya ini di dorong oleh keadaan, Ada beberapa fenomena baru yang muncul di Pemilukada Aceh Singkil, dari tahapan pencalonan Bakal Calon oleh partai politik, hingga proses keterlibatan masyarakat dalam politik.
Ada dua anomali yang terjadi dalam proses pilkada di Aceh Singkil.  
1. Media Sosial / jejaringan internet. Media facebook, instagram, Whattsahap hingga BBM merupakan lokasi yang berpotensi untuk menciptakan gelembung suara bagi calon yang diusung. Di media – media tersebut masyarakat merespon cepat terhadap isu - isu yang di beritakan, baik itu benar atau tidak itu cuma akal - akalan, tapi cara – cara ini diangga efektif, sehingga dalam sepekan ada banyak bermunculan akun2 yg hampir sama, yg tujuannya utk menjelaskan misi2 para calon yg didukungnya. Tapi sejarah sudah menulis, jokowi dan Obama menjadi orang – orang sukses diantarakan menjadi pemimpin negara melalui pemanfaatan media sosial. Hal ini dapat terjadi karena jika kita mengkalkulasikan satu akun facebook saja dapat menampung 5000 pertemanan, dalam proses kampanye langsung untuk mengumpulkan 1000 orang butuh biaya yang cukup besar, bayangkan jika ada lebih dari 1 akun yang dibentuk untuk memaparkan segala sesuatu tentang kandidatnya, berarti setiap hari orang – orang ini bisa berkampanye kepada ribuan orang, dengan hanya modal beberapa rupiah saja.

2. Munculnya Relawan Politik, politik butuh uang, dan uang sangat murah di politik. Nominal uang dalam dunia politik hanya di lihat dari warna kertasnya saja, kalau bukan merah berarti biru, tidak laku hijau atau pun kuning. Tapi di Aceh Singkil hari ini, muncul gerakan – gerakan politik yangg menggolongkan diri sebagai Relawan. Relawan politik, istilah ini mucul di kaitkan dengan gerakan - gerakan yang dilakukan oleh pemuda, tapi anehnya hari ini bukan golongan muda saja yang menyatakan diri meraka sebagai relawan, orang – orang yang sudah berumur pun juga bergabung dengan relawan ini. Bagi kami ini merupakan sejarah baru dalam pemilukada, para relawan ini sepertinya merindukan sosok pemimpin baru, ini ditandai dengan banyaknya kelompok – kelompok relawan yang bermunculan di desa – desa dan mengundang calon yang diinginkan untuk memimpin. Para relawan lalu menyediakan seluruh tempat dan akomodasi untuk calon dalam memaparkan visi misi mereka kepada masyarakat.

Dalam kebingungan fenomena relawan politik ini, kita teringat kepada pemilu - pemilu sebelumnya, uang pada pemilu sebelumnya terdengar sangat dekat dengan para pelaku - pelau politik, bahkan yang tidak terlibat dalam politik pun mendapatkan pembagian uang politik, tapi hari ini tidak. Uang tidak lagi di anggap menjadi primadona utama untuk terlibat di praktik politik, orang – orang  lebih suka mendengungkan perubahan, pergantian, ntah itu siapa yang penting berganti saja dulu. Ini sejarah baru, ini yang saya maksud kita harus terlibat politik pada pemilukada kali ini, karna rupa politik saat ini tidak seperti masa – masa sebelumnya.
Mari lihatlah kenyataan ini, lihat kejadian – kejadian politik di sekitar kita, pahami bahwa harapan politik bersih, bebas dari kepentingan memperkaya diri, kita ubah perlahan agar semua proses ini berjalan santun dan terhormat.

Ade Meyza Farmasi

Relawan Dulmusrid Sazali
© Dulmusrid - Sazali
Maira Gall