Jumat, 14 Oktober 2016

Surat Untuk Ibu Wakil Bupati

Pagi-pagi aku sudah kumpul di pinggir sungai bersama ratusan orang. Aku tidak sempat sarapan, khawatir ketinggalan boat yang akan bawa rombongan ke Singkil. Sebab boat kayu yang akan membawa kami sedikit, sedangkan orang yang ingin berangkat ratusan, bahkan kalau tidak dilarang mungkin se isi kampung kami akan berangkat semua.
Melewati sungai sambil diguyur hujan kami lalui. Sesampai di Singkil, kami langsung naik mobil menuju rumah Wakil Bupati Aceh Singkil, Pak Dulmusrid. Alamatnya aku tidak tahu, aku dengar dari orang rumah bapak di Kecamatan Simpang Kanan.
Tiba di sebuah perkampungan rombongan puluhan mobil yang kami tumpangi berhenti di jalan sempit. Laki-laki tinggi besar berkulit hitam yg aku ketahui merupakan Wakil Bupati Aceh Singkil pak Dulmusrid menyambut kami mempersilahkannya masuk ke rumah sederhana. “ Oh ini rumah Wakil Bupati ” kata temanku. Aku sempat heran rumah Wakil Bupati (maaf) kalah bagus oleh rumah toke ikan. Namun lamunanku segera buyar terdorong rasa lapar mendengar pak Dulmusrid, ngajak kami makan di dapur.
Rombongan kami yang datang jumlahnya ratusan langsung berdesakan berebut piring untuk diisi nasi sebanyak-banyaknya, gulai nangka dan goreng telur. Seorang perempuan sederhana nampak kewalahan lantaran aku dan teman-temanku tidak sabar mendapatkan nasi, ( takut kebagian sedikit hehe )
Kami pun beberapa kali minta tambah nasi. Sementara si perempuan sederhana hanya tersenyum sambil terus menuangkan nasi ke piring kami. Selesai makan kami bersandar di dinding rumah sambil ketawa ngakak. Si perempuan sederhana aku lirik sibuk mengumpulkan piring kotor bekas kami makan untuk dicuci bersama beberapa perempuan lain.
Di saat asik bercanda setelah perut kenyang. Kami baru menyadari jika perempuan sederhana yang sabar menuangkan nasi ke piring kami merupakan Istri Pak Wakil Bupati. Ketika pak Wakil Bupati memintanya siap-siap untuk mengatar kami pulang. Spontan kami langsung menyalami tangannya meminta maaf. “ Ya endak apa-apa yang penting bisa makan semua, walau seadanya,” ujar ibu Wakil Bupati sambil tersenyum.
Maafkan kelancangan kami ibu ! Kami rindu nasi yang ibu tuangkan, gulai nangka dan telur goreng buatan Ibu Wakil Bupati.
Dari Anak Nelayan Kuba


© Dulmusrid - Sazali
Maira Gall